Penjor Bali. (Dok. Annisha Bharati)
BALI - Pemasangan penjor paling meriah terjadi saat Hari Raya Galungan, yang dirayakan setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali. Galungan menandai kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Penjor dipasang sehari sebelum Galungan, disebut Penyajaan Galungan, dan akan berdiri hingga Hari Kuningan, yaitu 10 hari setelahnya.
Selama periode ini, penjor menjadi simbol kehadiran leluhur yang turun ke dunia, serta ucapan syukur atas harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Deretan penjor menciptakan pemandangan Bali yang tidak hanya cantik, tetapi penuh energi dan makna sakral.
Dalam tradisi Hindu Bali, penjor dipasang sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Mahadeva, mewakili rasa syukur atas hasil bumi dan anugerah kehidupan. Tak heran jika penjor selalu dipenuhi unsur alam seperti janur, padi, kelapa, pisang, tebu, dan umbi-umbian yang menggambarkan kemakmuran dan hubungan erat manusia dengan alam semesta. Penjor juga merepresentasikan Gunung Agung, sebagai pusat kekuatan spiritual Bali, sekaligus lambang hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan.
Biasanya dipasang saat Galungan hari raya besar yang menandai kemenangan Dharma atas Adharma penjor juga dapat ditemukan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan atau peresmian tempat suci. Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh keluarga atau banjar, menunjukkan nilai kebersamaan dan pengabdian. Penjor menjadi simbol nyata bagaimana spiritualitas, seni, dan keseharian masyarakat Bali berpadu dalam harmoni. Ketika penjor berdiri di sepanjang jalan desa hingga kota, ia mengubah lanskap Bali menjadi panggung doa terbuka, menyatukan keindahan visual dengan makna rohani yang dalam. Inilah mengapa bagi orang Bali, penjor bukan hanya ornamen tapi perwujudan hidup yang didedikasikan untuk semesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung