BALI - Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan Bhakti Penganyar yang dilakukan jajaran Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam rangkaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, Jumat (17/4). Prosesi ini dipimpin langsung oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, bersama Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna.
Rangkaian persembahyangan berlangsung di kawasan Penataran Agung dengan suasana sakral, diikuti oleh para pejabat serta rombongan dari Kabupaten Jembrana. Kegiatan ini menjadi bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan spiritual kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah dan tuntunan dalam kehidupan.
Baca juga: Polisi Usut Tuntas Kasus Penambangan Ilegal di Hutan Sakral Warga Baduy
Sebelum mengikuti persembahyangan utama, rombongan juga melaksanakan sembahyang di pura pedarman masing-masing. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam tradisi, sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul leluhur sekaligus memperkuat nilai spiritual pribadi sebelum memasuki puncak upacara.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kembang Hartawan menegaskan bahwa Bhakti Penganyar bukan sekadar rutinitas keagamaan. Ia memandang kegiatan ini sebagai momen refleksi bagi jajaran pemerintah untuk membersihkan pikiran dan menata niat dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, doa yang dipanjatkan di tempat suci seperti Besakih memiliki makna mendalam, terutama dalam memohon kelancaran program pembangunan di daerah. Ia berharap setiap kebijakan yang dijalankan dapat membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek sekala (fisik) dan niskala (spiritual) dalam kepemimpinan. Baginya, keberhasilan pembangunan tidak hanya terlihat dari infrastruktur atau capaian ekonomi, tetapi juga dari ketenangan batin serta harmoni sosial yang tercipta.
Baca juga: Mengenal Adat Tradisi Upacara Cupu Panjala di Gunungkidul, Yogyakarta
“Pembangunan yang ideal adalah yang mampu menyentuh dua sisi sekaligus, yaitu kemajuan fisik dan kematangan spiritual,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Jembrana ingin memperkuat sinergi antara nilai-nilai religius dengan upaya pembangunan yang berkelanjutan. Semangat gotong royong serta kearifan lokal diharapkan terus menjadi fondasi dalam mewujudkan daerah yang maju, selaras, dan bermartabat.
Bhakti Penganyar di Besakih pun tidak hanya menjadi simbol pengabdian spiritual, tetapi juga penegasan komitmen pemerintah dalam membangun daerah dengan pendekatan yang menyeluruh dan menggabungkan kekuatan lahir dan batin demi kesejahteraan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemerintah Kabupaten Jembrana