Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 27 APRIL 2026 • 09:30 WIB

Pelatihan Banten Otonan di Denpasar, WHDI Edukasi Makna dan Tata Cara Sesuai Sastra Hindu

Pelatihan Banten Otonan di Denpasar, WHDI Edukasi Makna dan Tata Cara Sesuai Sastra HinduWHDI Kota Denpasar Gelar Pelatihan Kecakapan Hidup Pembuatan Banten Otonan Tumpeng Pitu (humasdps)

BALI - Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat melalui program pelatihan kecakapan hidup. Salah satu kegiatan terbaru yang digelar adalah pelatihan pembuatan Banten Otonan Tumpeng Pitu, yang berlangsung di Banjar Tatasan Kaja, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Jumat (24/4). Kegiatan ini secara khusus menyasar kaum perempuan Hindu setempat.

Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan keterampilan membuat sarana upacara, tetapi juga bertujuan memberikan pemahaman yang benar mengenai makna banten otonan sesuai ajaran agama Hindu. Ia menilai masih adanya perbedaan persepsi di masyarakat terkait tata cara maupun filosofi banten otonan, sehingga diperlukan kegiatan edukatif yang berkelanjutan.

Baca juga: Peserta Pelatihan Kemnaker Collabs TikTok Capai 1.400 Orang, Hadir Online Sampai Offline

Menurutnya, banten otonan merupakan bagian penting dalam tradisi umat Hindu Bali, yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali berdasarkan kalender Bali sebagai peringatan hari kelahiran. Dengan kemampuan membuat banten secara mandiri, masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, tidak hanya memahami nilai spiritualnya, tetapi juga dapat menghemat pengeluaran keluarga.

Program ini merupakan salah satu agenda rutin WHDI di bidang keagamaan yang dilaksanakan secara bergilir di berbagai banjar di empat kecamatan di Kota Denpasar. Tingginya partisipasi masyarakat dalam setiap pelatihan menjadi indikator bahwa kegiatan ini sangat dibutuhkan.

Dalam pelatihan tersebut, narasumber Ni Wayan Sukerti menegaskan bahwa dirinya hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk menyamakan pemahaman berdasarkan ajaran yang diperoleh dari para sulinggih atau nabe. Ia juga menyoroti pentingnya lokasi pelaksanaan upacara otonan yang sebaiknya dilakukan di merajan, sebagai tempat suci berstana Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta leluhur.

Baca juga: 1,8 Juta Nakes Belum Dapat Akses Pelatihan Akreditasi untuk Dukung Layanan Kesehatan

Ia menjelaskan bahwa saat prosesi berlangsung, diyakini para dewa dan leluhur hadir di merajan, sehingga tempat tersebut menjadi lokasi yang paling tepat untuk menghaturkan banten. Meski demikian, penggunaan merajan bersama dalam satu keluarga besar tetap diperbolehkan.

Salah satu peserta, Ni Nyoman Rikin Ariani, mengaku mendapatkan wawasan baru dari pelatihan tersebut. Ia menyampaikan apresiasinya kepada WHDI karena telah menghadirkan kegiatan yang bermanfaat, terutama dalam menyamakan pemahaman masyarakat mengenai pelaksanaan otonan.

Melalui pelatihan ini, WHDI berharap para peserta tidak hanya mampu mempraktikkan pembuatan banten otonan secara mandiri, tetapi juga dapat menyebarkan pengetahuan tersebut kepada lingkungan sekitar, sehingga tradisi keagamaan tetap terjaga sesuai tuntunan sastra Hindu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Denpasar

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pelatihan Banten Otonan di Denpasar, WHDI Edukasi Makna dan Tata Cara Sesuai Sastra Hindu

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!