Selasa, 02 JUNI 2026 • 10:00 WIB

Mengenal Mekare-kare, Ritual Unik Perang Pandan di Bali

Author

Mekare-kare, ritual unik perang pandan di Bali. (tourism.karangasemkab.go.id)

BALI - Desa Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa Bali Aga yang berada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa ini terletak sekitar 18 kilometer dari Kota Amlapura dan sekitar 67 kilometer dari Kota Denpasar. Tenganan dikenal sebagai salah satu desa adat tertua di Bali yang masih menjaga tradisi leluhurnya hingga saat ini.

Salah satu tradisi paling terkenal di desa ini adalah Mekare-kare, sebuah ritual adat yang dipersembahkan kepada Dewa Indra, yang dipercaya sebagai dewa perang. Tradisi ini sering disebut sebagai Perang Pandan karena para peserta menggunakan ikatan daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng dari anyaman rotan sebagai pelindung.

Dalam pelaksanaannya, para pemuda desa saling berhadapan dalam sebuah pertunjukan yang menggabungkan unsur keberanian, ketangkasan, dan seni gerak. Meski terlihat seperti pertarungan, Mekare-kare bukanlah ajang untuk menentukan pemenang atau pecundang. Ritual ini lebih menekankan nilai kebersamaan, sportivitas, dan penghormatan kepada leluhur.

Baca juga: Pantai Candidasa, Destinasi Favorit untuk Menikmati Bali yang Lebih Tenang

Luka akibat duri pandan menjadi bagian dari tradisi ini. Untuk mengobatinya, masyarakat menggunakan boreh kare, ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit, lengkuas, dan asam cuka. Ramuan tersebut telah dipersiapkan secara khusus dan dipercaya dapat membantu menyembuhkan luka para peserta.

Tradisi Mekare-kare melibatkan para pemuda desa sebagai pelaku utama, namun juga dapat disaksikan oleh masyarakat umum. Selama ritual berlangsung, peserta hanya mengenakan kain kamben dan bertelanjang dada. Mereka diharapkan tetap menjaga etika dengan tidak menyerang bagian wajah serta menampilkan gerakan yang mengandung unsur seni dan penghormatan terhadap tradisi.

Setelah ritual selesai, masyarakat melaksanakan prosesi lanjutan berupa makan bersama, pengobatan luka menggunakan boreh kare, serta ritual simbolis yang diakhiri dengan penuangan tuak secara bergiliran oleh para krama desa.

Bagi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, Mekare-kare bukan sekadar tradisi perang, melainkan simbol ketulusan, keikhlasan, dan rasa hormat kepada leluhur. Tradisi ini juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga sekaligus daya tarik wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Tourism.karangasemkab.go.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU