BALI - Pulau Dewata juga menyimpan kisah lain yang tak kalah menarik, yakni tradisi ziarah makam Islam yang telah hidup dan dijaga turun-temurun oleh umat Muslim setempat. Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa Bali bukan hanya ruang spiritual satu warna, melainkan tempat bertemunya beragam keyakinan yang hidup berdampingan secara harmonis.
Ziarah makam Islam di Bali tidak sekadar menjadi aktivitas religius, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah panjang masuknya Islam ke wilayah ini. Dari Bali Barat hingga Bali Timur, jejak dakwah para ulama masih bisa ditelusuri melalui makam-makam tokoh agama yang hingga kini ramai dikunjungi peziarah, baik dari dalam maupun luar Bali. Berikut ini merupakan tempat atau makam yang dikunjungi untuk ziarah di Bali:
Baca juga: Ziarah Bersejarah Kakankemenag Maluku Tengah di Pulau Nailaka
Salah satu wilayah yang paling dikenal sebagai pusat sejarah Islam di Bali adalah Kampung Loloan, Kabupaten Jembrana. Kawasan ini telah lama menjadi tempat tinggal komunitas Muslim yang tetap menjaga identitas keagamaannya di tengah budaya Hindu Bali. Di Kampung Loloan, terdapat dua makam yang kerap menjadi tujuan ziarah, yakni Makam Buyut Lebai dan Makam Ustaz Ali Bafaqih.
Makam Buyut Lebai diyakini sebagai tempat peristirahatan salah satu tokoh awal penyebar Islam di Bali Barat. Sosoknya dikenal sebagai figur yang berjasa dalam mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Hingga kini, makam tersebut tidak pernah sepi dari peziarah yang datang untuk berdoa sekaligus mengenang peran Buyut Lebai dalam sejarah Islam Bali.
Tak jauh dari sana, Makam Ustaz Ali Bafaqih juga memiliki posisi penting dalam tradisi ziarah Islam di Bali. Ustaz Ali Bafaqih dikenal sebagai ulama yang aktif berdakwah dan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan komunitas Muslim di wilayah Jembrana. Kehadiran makam ini menjadi pengingat bahwa Islam tumbuh di Bali melalui pendekatan damai dan kultural, sejalan dengan nilai-nilai lokal yang sudah ada.
Selain Jembrana, jejak Islam juga dapat ditemukan di Kampung Gelgel, Kabupaten Klungkung. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat awal keberadaan Muslim di Bali, ditandai dengan berdirinya Masjid Nurul Huda, yang sering disebut sebagai salah satu masjid tertua di pulau ini. Sejarah mencatat bahwa umat Muslim di Gelgel telah ada sejak masa kerajaan, dengan latar belakang prajurit dan pendatang Muslim dari Jawa.
Di sekitar kawasan tersebut, terdapat pula makam-makam tua tokoh Muslim yang meski tidak selalu disebut secara luas, tetap memiliki nilai historis tinggi. Ziarah ke tempat-tempat ini menjadi cara masyarakat untuk menyambungkan diri dengan masa lalu sekaligus menghormati peran para pendahulu yang membangun fondasi kehidupan Islam di Bali.
Baca juga: Daftar Tempat Ziarah di Riau dan Sejarah Singkatnya
Dalam perkembangan tradisi ziarah, muncul pula narasi Wali Pitu, yakni tujuh tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Bali. Konsep ini sering disandingkan dengan Wali Songo di Jawa, meski lebih dikenal melalui tradisi tutur dan praktik ziarah modern. Beberapa makam yang dikaitkan dengan Wali Pitu tersebar di berbagai wilayah Bali dan kerap dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan ziarah religi.
Meski latar belakang historis masing-masing tokoh kerap menjadi bahan diskusi, tradisi ziarah ke makam-makam tersebut tetap hidup dan berkembang. Bagi peziarah, perjalanan ini bukan soal validasi sejarah semata, melainkan pengalaman spiritual, refleksi diri, dan upaya menjaga ingatan kolektif tentang Islam di Bali.
Menariknya, tradisi ziarah makam Islam di Bali juga mencerminkan tingginya nilai toleransi antarumat beragama. Di banyak lokasi ziarah, masyarakat sekitar yang mayoritas Hindu turut menjaga lingkungan makam dan menghormati aktivitas keagamaan umat Muslim. Situasi ini memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
Bagi generasi muda, ziarah makam Islam di Bali kini tidak hanya dipandang sebagai ritual keagamaan, tetapi juga bentuk wisata religi yang sarat edukasi. Banyak peziarah yang datang sambil mempelajari sejarah lokal, mengenal komunitas Muslim Bali, hingga merasakan langsung atmosfer budaya yang unik dan penuh keharmonisan.
Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa identitas Bali tidak hanya dibentuk oleh simbol-simbol besar seperti pura atau upacara adat, tetapi juga oleh kisah-kisah kecil yang dijaga dengan konsisten oleh masyarakatnya. Makam-makam Islam yang tersebar di Bali menjadi saksi bahwa keberagaman telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan Pulau Dewata.
Baca juga: Wisata Religi di Martapura, Ziarah Spiritual ke Makam Ulama & Masjid Bersejarah
Pada akhirnya, ziarah makam Islam di Bali bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan juga perjalanan budaya dan sejarah. Melalui tradisi ini, masyarakat Bali menunjukkan bahwa warisan masa lalu dapat dirawat tanpa harus menghapus identitas yang berbeda. Sebuah pesan kuat tentang harmoni, toleransi, dan keberagaman yang relevan hingga hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber