Minggu, 13 JULI 2025 • 22:38 WIB

Masjid dengan Jiwa Bali: Perpaduan Iman dan Budaya yang Memikat Hati

Author

Mesjid Agung Sudirman. (Dok. Annisha Bharati)

BALI - Di tengah gemerlap Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali yang identik dengan pura dan adat Hindu, berdiri sebuah rumah ibadah umat Islam yang begitu unik dan penuh makna, Masjid Agung Sudirman.

Baca juga: Asal Usul Kota Denpasar, Ternyata Berawal dari Sebuah Taman

Sekilas, tampilan arsitekturnya tak seperti masjid-masjid pada umumnya. Dari kejauhan, bangunannya justru menyerupai wantilan, balai pertemuan khas Bali yang biasa digunakan dalam upacara adat dan kegiatan sosial masyarakat Hindu.

Masjid yang terletak di pusat kota Denpasar ini dibangun pada tahun 1974 atas inisiatif Drs. Zainuddin, H. Mat Nur, dan rekan-rekan lainnya, yang kala itu merupakan anggota TNI yang sedang ditugaskan di lingkungan Kodam Udayana.

Baca juga: Museum Bajra Sandhi, Jejak Perjuangan Rakyat Bali Melawan Penjajah

Pendirian masjid ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan tempat ibadah bagi umat Islam yang jumlahnya semakin bertambah di lingkungan militer tersebut.

Keunikan Masjid Agung Sudirman tak hanya pada fungsinya sebagai masjid di tengah masyarakat mayoritas Hindu, tapi juga karena arsitektur bangunannya yang menyatu dengan kearifan lokal. Dalam artikel ilmiah berjudul "Strategi Adaptasi Arsitektur Masjid di Lingkungan Minoritas" oleh Andika Saputra (UGM) dan Muhammad Rochis (Universitas Warmadewa), dijelaskan bahwa bentuk bangunan masjid ini memang mengadopsi arsitektur wantilan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Bali.

Filosofi di balik penerapan bentuk wantilan sangat dalam. Dalam tradisi Hindu Bali, wantilan merupakan ruang berkumpul yang digunakan untuk kegiatan sosial maupun keagamaan. Sedangkan dalam Islam, masjid juga merupakan tempat berkumpul umat untuk beribadah dan bersosialisasi. Kesamaan nilai antara kedua fungsi ini menjadi jembatan harmoni yang diwujudkan dalam desain arsitektur masjid.

Secara visual, atap bangunan masjid berbentuk limas tumpang dua, khas wantilan Bali, lengkap dengan penutup genteng serta ornamen ikut celedu di bagian bubungan, yakni ornamen tradisional khas Bali.

Baca juga: Jalan-Jalan ke Bali? Jangan Pulang Sebelum Coba Makanan Khas Ini!

Meski kental dengan gaya lokal, identitas keislaman tetap ditonjolkan. Di puncak atap masjid dipasang ornamen lafadz Allah, agar tetap mudah dikenali sebagai tempat ibadah umat Islam, terlebih bagi para wisatawan Muslim yang berada di kawasan pusat kota.

Sejak awal pembangunannya, Masjid Agung Sudirman telah mengalami dua kali renovasi besar, yaitu pada tahun 1979 untuk memperbaiki kerusakan, dan pada tahun 1994 yang sekaligus memperluas bangunan serta menegaskan desainnya menjadi bentuk wantilan Bali. Hingga kini, masjid ini bukan hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Islam di Denpasar, tetapi juga menjadi simbol toleransi, adaptasi, dan keharmonisan antar umat beragama di Bali.

Baca juga: Padel, Olahraga Sosial yang Lagi Naik Daun di Bali - Ini Tempat Mainnya!

Masjid Agung Sudirman bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah narasi visual tentang keberagaman, penghormatan budaya, dan harmoni di tengah pluralitas Bali. Sebuah masjid yang tidak hanya menyentuh hati umatnya, tapi juga menginspirasi siapa saja yang memandangnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU