Taman Nasional Bali Barat (google maps/ludaniel)
BALI - Di balik hiruk-pikuk pariwisata modern, Pulau Dewata menyimpan kawasan konservasi alam yang menjadi benteng terakhir ekosistem asli, yakni Taman Nasional Bali Barat. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat pelestarian biodiversitas sekaligus contoh nyata praktik ekowisata berkelanjutan.
Taman Nasional Bali Barat merupakan satu-satunya taman nasional di Bali dengan luas mencapai sekitar 77.000 hektare atau sekitar 10 persen dari total wilayah daratan pulau. Kawasan ini mencakup wilayah darat dan perairan, menjadikannya unik karena menggabungkan ekosistem hutan tropis, savana, mangrove, hingga terumbu karang dalam satu kawasan terpadu.
Baca juga: Kucing Kuwuk Kembali Menyatu dengan Hutan Gunung Raung: Simbol Nyata Gerakan Konservasi Satwa
Secara historis, kawasan ini telah dilindungi sejak awal abad ke-20. Pada 1917, wilayah ini mulai ditetapkan sebagai kawasan konservasi, sebelum akhirnya resmi menjadi taman nasional pada tahun 1995 melalui kebijakan pemerintah Indonesia.
Keberadaan taman nasional ini menjadi sangat penting, terutama di tengah pesatnya pembangunan pariwisata Bali yang kerap menekan ruang hidup alami. Kawasan ini berfungsi sebagai “paru-paru” ekologi sekaligus laboratorium alam bagi penelitian dan pendidikan lingkungan.
Daya tarik utama taman nasional ini terletak pada keanekaragaman hayatinya. Tercatat sekitar 160 spesies flora dan fauna dilindungi di dalam kawasan ini.
Salah satu ikon paling terkenal adalah burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), spesies endemik yang sempat berada di ambang kepunahan. Taman nasional ini menjadi habitat alami terakhir bagi burung langka tersebut, sekaligus lokasi berbagai program konservasi dan pelepasliaran.
Baca juga: Mengurai Peta Baru Konservasi Jawa Timur, Strategi Senyap Menjaga Alam Tetap Hidup
Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar seperti banteng, rusa, lutung jawa, babi hutan, hingga beragam jenis burung dan reptil.
Dari sisi flora, hutan di kawasan ini dihuni oleh berbagai jenis tanaman khas tropis seperti cendana, kepuh, hingga berbagai spesies pohon hutan hujan dan savana. Kombinasi ini menciptakan lanskap yang sangat beragam dalam satu wilayah, mulai dari hutan lebat hingga padang rumput terbuka.
Sebagai destinasi ekowisata, taman nasional ini menawarkan berbagai aktivitas berbasis alam yang menarik bagi wisatawan. Salah satu yang paling diminati adalah trekking atau jelajah hutan dengan pemandu resmi.
Beberapa jalur trekking populer melintasi kawasan hutan hujan, savana, hingga pesisir pantai. Wisatawan dapat menikmati pengalaman mengamati satwa liar langsung di habitatnya, sekaligus mempelajari ekosistem secara lebih dekat.
Selain trekking, aktivitas lain yang tak kalah menarik adalah bird watching, snorkeling, dan diving di sekitar Pulau Menjangan yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.
Keunggulan utama dari aktivitas ini adalah pendekatan edukatif yang ditawarkan. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ksdae.kehutanan.go.id