Lapangan Niti Mandala Renon, Spot Keren Untuk Berolahraga di Denpasar (melinda/getlost.id)
BALI - Selama ini Bali sering dilihat dari sisi kemegahan pantainya, vila mewah, kafe estetik, dan destinasi liburan kelas dunia. Tapi di balik itu semua, ada elemen penting yang bikin Bali tetap hidup dan berdenyut setiap hari, yaitu ruang publik. Tanpa ruang publik, Bali mungkin tetap indah, tapi akan kehilangan jiwanya.
Ruang publik di Bali bukan cuma tempat orang kumpul atau sekadar area terbuka. Ia adalah titik temu antara masyarakat, budaya, alam, dan spiritualitas. Dari pantai, taman kota, lapangan, hingga bale banjar di tengah hiruk pikuk kehidupan manusia, semuanya punya peran masing-masing dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Pantai
Pantai di Bali bisa dibilang ruang publik paling “jujur”. Semua orang bisa datang tanpa tiket mahal, tanpa sekat status sosial. Di pagi hari, pantai jadi tempat nelayan beraktivitas dan warga olahraga. Sore hari, berubah jadi ruang santai untuk keluarga, komunitas, dan wisatawan.
Namun fungsi pantai di Bali jauh melampaui rekreasi. Pantai juga memegang peran penting dalam ritual keagamaan Hindu Bali. Upacara seperti Melasti menjadikan pantai sebagai ruang sakral tempat penyucian diri dan sarana upacara. Artinya, pantai bukan sekadar aset wisata, tapi juga ruang spiritual publik yang dijaga bersama.
Aturan tata ruang di Bali pun menegaskan bahwa pantai tidak boleh diprivatisasi sepenuhnya. Akses publik harus tetap terbuka, meski di sekitarnya berdiri hotel atau resort. Inilah yang membuat pantai Bali tetap relevan sebagai ruang sosial, budaya, sekaligus ekologis.
Ruang Terbuka Hijau
Di tengah perkembangan kota dan pariwisata, ruang terbuka hijau (RTH) menjadi penyeimbang yang krusial. Taman kota, jalur hijau, dan area pepohonan publik memberi ruang bernapas bagi warga Bali.
RTH di Bali sering dimanfaatkan untuk aktivitas santai: jogging pagi, piknik keluarga, yoga komunitas, hingga sekadar duduk menikmati sore. Tapi di balik fungsi kasual itu, RTH punya manfaat besar yakni menyerap polusi, menurunkan suhu udara, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjadi ruang aman untuk interaksi lintas generasi.
Di era yang makin padat sekarang ini, keberadaan RTH bukan lagi pelengkap, tapi kebutuhan. Tanpa ruang hijau, kualitas hidup masyarakat akan ikut terdampak.
Baca juga: Ruang Publik Pekanbaru 2026 Makin Modern, dari RTH hingga Creative Hub Jadi Pusat Aktivitas Warga
Alun-Alun dan Lapangan Kota
Alun-alun dan lapangan kota di Bali menjadi contoh ruang publik yang fleksibel. Di pagi hari bisa dipakai olahraga, siang untuk anak-anak bermain, sore hingga malam jadi pusat kegiatan komunitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber