Pantauan Harga Cabai di Pasar Tradisional Bali: Update Terbaru, Tren Pekan Ini dan Faktor Penyebab
BALI - Harga cabai di pasar tradisional Bali pada awal Februari 2026 menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan antar jenisnya. Data terbaru yang dirilis oleh Sistem Pemantauan Pangan Strategis (SP2KP) Kementerian Perdagangan mencatat bahwa sejumlah jenis cabai mengalami kenaikan harga meskipun beberapa masih berada pada level yang lebih rendah dibandingkan puncak harga sebelumnya. Data ini menjadi acuan bagi pedagang, konsumen, dan pemerintah dalam memahami dinamika pasar pangan di Provinsi Bali.
Harga Cabai Per 3 Februari 2026 di Bali
Menurut SP2KP Kemendag, harga berbagai jenis cabai di Bali pada tanggal 3 Februari 2026 pukul 17:55 WIB adalah sebagai berikut:
- Cabai rawit (cayenne pepper): sekitar Rp66.917 per kg (naik sekitar 2,99 % dibandingkan data sebelumnya).
- Cabai merah keriting: sekitar Rp30.944 per kg (naik sekitar 2,77 %).
- Cabai merah besar: sekitar Rp29.417 per kg (naik sekitar 2,92 %).
Kenaikan persentase ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap komoditas cabai di Bali mulai bergerak meningkat setelah sebelumnya beberapa jenis sempat cenderung stabil atau turun. Pergerakan harga ini juga mencerminkan dinamika pasokan cabai di pasar lokal yang dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal.
Baca juga: Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah Turun, Bapanas Pantau Stabilitas Pangan Nasional
Perbandingan dengan Periode Sebelumnya. Bulan Desember 2025, sebelumnya pada 19 Desember 2025, data SP2KP menunjukkan beberapa jenis cabai justru mengalami sedikit penurunan atau stagnan:
- Cabai rawit: Rp65.167 per kg (sedikit turun 0,21 %).
- Cabai merah keriting: Rp50.306 per kg (turun 0,98 %).
- Cabai merah besar: Rp41.528 per kg (stabil).
Perbandingan data:
1 Cabai rawit pada Februari 2026 (±Rp66.917/kg) sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 (±Rp65.167/kg).
2 Namun cabai merah keriting dan cabai merah besar di awal Februari berada pada level harga yang lebih rendah dibandingkan Desember 2025, menunjukkan adanya pergeseran tren yang perlu dicermati oleh pelaku usaha dan konsumen.
Harga cabai, seperti komoditas pangan lainnya, dipengaruhi oleh sejumlah faktor mendasar yang saling berkaitan. Berikut ini beberapa penyebab utama yang berkontribusi pada naik-turunnya harga cabai di Bali:
1. Faktor Cuaca dan Musim Panen
Cuaca sangat berpengaruh terhadap produksi cabai. Curah hujan tinggi, banjir, atau periode kekeringan yang ekstrem dapat mengganggu proses pertumbuhan hingga panen, sehingga jumlah pasokan di pasar menipis. Sebagai contoh, data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali sebelumnya menunjukkan bahwa curah hujan tinggi di akhir tahun membuat pasokan cabai rawit dan bawang di tingkat petani menurun, yang mendorong harga di pasar naik tajam.
2. Rantai Distribusi dan Logistik
Distribusi cabai dari sentra produksi ke pasar tradisional membutuhkan biaya logistik yang cukup tinggi. Jika terjadi gangguan logistik atau keterlambatan pasokan dari luar Bali (seperti dari Jawa Timur atau daerah sentra produksi lainnya), maka ketersediaan cabai di pasar lokal akan berkurang. Kekurangan suplai ini sering membuat pedagang menaikkan harga jualnya untuk menutup biaya tambahan atau mengantisipasi risiko barang cepat rusak.
3. Permintaan Jelang Hari Besar
Permintaan cabai cenderung meningkat menjelang hari besar keagamaan seperti Nyepi, Ramadan, dan Lebaran. Pada periode tersebut, kebutuhan masyarakat untuk acara adat, masakan khas, dan konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Pada periode menjelang Nyepi dan Lebaran 2025, laporan menunjukkan harga cabai rawit di Bali sempat menembus Rp120–Rp130 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal karena tingginya permintaan dan pasokan yang terbatas.
4. Musim Panen Lokal
Tingkat produksi di dalam Bali juga mengalami siklus musiman. Pada periode panen lokal, pasokan cabai relatif melimpah sehingga harga cenderung turun. Namun pada bulan-bulan ketika tanaman belum siap panen, pasokan berkurang dan harga akan naik karena permintaan tetap tinggi sementara stok menipis.
Baca juga: Usaha Catering di Kota Jambi Keluhkan Tingginya Harga Cabai
Berdasarkan data pergerakan harga selama beberapa bulan terakhir, tren harga cabai di Bali cenderung bergerak naik mendekati akhir musim hujan dan menjelang perayaan besar, kemudian mengendur atau stabil ketika panen lokal meningkat.
Prediksi harga dalam beberapa pekan ke depan (Februari–Maret 2026):
- Cabai rawit merah kemungkinan masih berada di kisaran Rp60.000–Rp75.000 per kg apabila permintaan tetap tinggi dan pasokan belum optimal.
- Cabai merah keriting dan cabai merah besar diperkirakan bergerak di kisaran Rp30.000–Rp45.000 per kg, dengan kemungkinan sedikit kenaikan apabila pasokan dari sentra produksi lain terganggu.
Faktor yang akan menentukan tren tersebut termasuk cuaca musim hujan yang belum sepenuhnya berakhir, serta permintaan konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh kegiatan sosial budaya di Bali.
Tips Belanja Cabai Hemat Bagi Masyarakat
Dengan harga cabai yang cenderung fluktuatif, berikut beberapa tips praktis untuk belanja hemat:
1. Belanja di Pagi Hari
Baca juga: Pemerintah Kota Malang Siapkan Lahan Puluhan Hektare untuk Budidaya Cabai Antisipasi Lonjakan Harga
Pasar tradisional umumnya memiliki stok cabai segar lebih banyak di pagi hari. Pedagang yang mendapatkan pasokan langsung dari tengkulak atau petani biasanya menurunkan harga sedikit lebih murah sebelum stok cepat habis.
2. Bandingkan Harga Antar Pedagang
Luangkan waktu untuk membandingkan harga cabai di beberapa lapak pedagang di pasar. Ada kemungkinan pedagang yang menjual dengan margin lebih rendah jika mereka membeli stok dalam jumlah besar.
3. Beli Lebih Banyak Saat Harga Turun
Apabila harga cabai turun pada periode tertentu misalnya saat panen lokal, pertimbangkan untuk membeli dalam jumlah lebih banyak dan menyimpannya dengan cara yang tepat (misalnya dibekukan) untuk kebutuhan jangka pendek.
4. Gabung dengan Grup Pembelian
Beberapa komunitas masyarakat atau kelompok konsumen terkadang melakukan pembelian grosir bersama yang bisa menekan harga per kilo lebih rendah daripada membeli satuan untuk konsumsi rumah tangga.
5. Manfaatkan Informasi Harga Resmi
Selalu pantau SP2KP Kemendag atau dashboard harga pangan resmi pemerintah yang menyediakan data harian harga kebutuhan pokok seperti cabai. Data ini membantu konsumen membuat keputusan dengan informasi yang valid.
Baca juga: Daftar Harga Cabai di Maluku Hari Ini, Naik atau Turun?
Harga cabai di Bali pada awal Februari 2026 menunjukkan kecenderungan peningkatan pada beberapa jenis, terutama cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan cabai merah besar. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh faktor cuaca, distribusi, musim panen, serta permintaan masyarakat menjelang hari besar. Dengan memahami pola pergerakan harga dan tips belanja yang tepat, konsumen dapat tetap memenuhi kebutuhan pangan pokok dengan lebih ekonomis.
Sumber data utama artikel ini berasal dari SP2KP Kementerian Perdagangan RI yang memantau harga komoditas pangan di pasar tradisional Bali per 3 Februari 2026, serta rujukan kondisi pasar pada periode sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diolah Dari Berbagai Macam Sumber