Mengintip Gedung Tertinggi di Bali dan Alasan Pulau Ini Tidak Ada Gedung-Gedung Pencakar Langit Lainnya
BALI - Pulau Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia dengan panorama alam, budaya, dan tata ruang yang khas. Namun, berbeda dari kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, Bali tidak memiliki gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di balik keunikan itu, terdapat kombinasi antara regulasi ketat, nilai budaya, hingga pertimbangan lingkungan yang membentuk wajah skyline Bali hingga hari ini.
Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan modernisasi pariwisata, Bali tetap mempertahankan identitasnya.
Salah satu faktor utama yang membuat Bali tidak memiliki gedung pencakar langit adalah regulasi resmi pemerintah daerah. Dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 yang kemudian diperbarui dalam RTRW 2023–2043, tinggi bangunan dibatasi maksimal sekitar 15 meter atau setara 4 lantai.
Baca juga: Jeddah Tower, Calon Gedung Tertinggi di Dunia yang Akan Jadi Ikon Wisata Global Arab Saudi
Batas ini sering dianalogikan sebagai “tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa”. Filosofi tersebut bukan sekadar aturan teknis, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya Bali.
Selain itu, ada pengecualian untuk bangunan tertentu seperti rumah sakit, fasilitas keselamatan, hingga menara telekomunikasi, namun tetap melalui kajian ketat.
Meski tidak memiliki skyscraper, Bali tetap memiliki beberapa bangunan yang tergolong tinggi dalam konteks lokal.
1. Bali Beach Hotel (Sanur)
Bangunan ini menjadi ikon sekaligus “anomali” dalam skyline Bali. Dengan 10 lantai, hotel ini merupakan bangunan tertinggi di Bali yang masih digunakan hingga kini.
Hotel ini dibangun pada era Presiden Soekarno pada 1960-an, sebelum aturan pembatasan tinggi bangunan diberlakukan. Karena itu, keberadaannya menjadi pengecualian historis. Berfungsi sebagai Hotel bintang lima serta Pusat akomodasi wisata internasional.
Baca juga: 6 Destinasi Wisata Religi Muslim di Jakarta: Menemukan Kedamaian di Balik Gedung Pencakar Langit!
2. Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Meski bukan gedung, struktur ini termasuk salah satu yang tertinggi di Bali. Patung ini menjadi landmark budaya sekaligus destinasi wisata utama. Memiliki kegunaan sebagai, Ikon budaya dan religi hingga Destinasi wisata dan event.
3. Tower Turyapada
Menara ini merupakan salah satu bangunan modern yang diperbolehkan melampaui batas tinggi karena berfungsi sebagai fasilitas telekomunikasi. Berfungsi untuk Infrastruktur komunikasi dan Mendukung jaringan digital di Bali
Tingginya mencapai lebih dari 100 meter, namun tetap masuk kategori bangunan khusus yang diizinkan.
Berbeda dengan kota besar yang menonjolkan skyline vertikal, Bali berkembang dengan pola horizontal. Bangunan seperti hotel, vila, dan resort tersebar luas alih-alih menjulang tinggi. Di kawasan wisata seperti Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua, hotel dan resort menjadi fungsi utama. Sementara itu, vila privat semakin populer sebagai alternatif akomodasi modern, menggantikan konsep apartemen bertingkat tinggi.
Baca juga: Hidden Gem Padel di Balik Gedung Tinggi Perkantoran Gatot Subroto
Aktivitas bisnis pun lebih banyak dijalankan di bangunan rendah skala kecil hingga menengah. Pola ini membentuk lanskap kota yang khas, di mana bangunan modern tetap menyatu dengan sawah, pura, dan ruang terbuka.
Mengapa Bali Tidak Ada Gedung Pencakar Langit?
1. Menjaga Kesakralan dan Budaya. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, ruang vertikal memiliki nilai spiritual. Gunung Agung dianggap sebagai titik tertinggi yang sakral, sehingga bangunan tidak boleh mendominasi secara visual.
2. Melindungi Identitas Pariwisata. Skyline tanpa gedung tinggi justru menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan datang ke Bali untuk menikmati alam dan budaya, bukan lanskap urban seperti kota metropolitan.
3. Pertimbangan Lingkungan dan Daya Dukung. Bali adalah pulau kecil dengan sumber daya terbatas. Pembangunan vertikal berisiko meningkatkan beban lingkungan, seperti, konsumsi air, limbah hingga kepadatan penduduk.
4. Keamanan dan Penerbangan. Ketinggian bangunan juga berkaitan dengan jalur penerbangan, terutama karena Bali memiliki bandara internasional yang sibuk.
Meski tidak memiliki gedung pencakar langit, Bali tetap bergerak maju dengan modernisasi yang signifikan. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandara, hingga kawasan ekonomi terus digenjot untuk mendukung pertumbuhan pariwisata dan investasi. Namun, arah pengembangannya tidak mengikuti pola kota besar pada umumnya.
Bali memilih pendekatan pembangunan rendah (low-rise), memadukan arsitektur tradisional dengan sentuhan modern, serta mengembangkan kawasan terpadu seperti resort dan ekowisata. Strategi ini membuat Bali tetap mampu bersaing di tingkat global, tanpa harus mengorbankan karakter budaya dan keindahan alam yang menjadi daya tarik utamanya.
Meski tidak ada gedung super tinggi, ada beberapa lokasi terbaik untuk menikmati panorama Bali dari ketinggian:
1. Rooftop Hotel di Seminyak & Kuta. Banyak hotel menyediakan rooftop bar dengan pemandangan laut dan kota.
2. GWK Cultural Park. Dari area ini, pengunjung bisa melihat lanskap Bali selatan dari sudut pandang luas.
3. Bukit Jimbaran & Uluwatu. Tempat terbaik untuk menikmati sunset sekaligus city view alami.
4. Bali Beach Hotel (Sanur). Sebagai bangunan tertinggi, tempat ini menawarkan perspektif langka melihat Bali dari atas.
Baca juga: Bukan Main, 5 Benda Spektakuler ini Terbuat dari Kayu, Mulai Buku hingga Gedung Tinggi
Jika Jakarta dikenal dengan deretan gedung pencakar langit sebagai simbol kekuatan ekonomi dan pusat bisnis, Bali justru mengambil arah yang berbeda. Di Jakarta, bangunan tinggi menjadi solusi efisiensi lahan sekaligus mendukung aktivitas bisnis yang terpusat secara vertikal.
Sementara itu, Bali mempertahankan konsep bangunan rendah demi menjaga harmoni budaya dan lingkungan, dengan fokus pada pariwisata berbasis alam. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki prioritas pembangunan yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing.
Bali mungkin tidak memiliki gedung pencakar langit, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Regulasi ketat yang membatasi tinggi bangunan hingga sekitar 15 meter menjadi fondasi utama dalam menjaga identitas pulau ini.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Berada di Atas Gedung Tinggi Menurut Primbon Jawa
Gedung-gedung seperti Bali Beach Hotel, GWK, dan Tower Turyapada menjadi pengecualian yang memperkaya karakter skyline Bali tanpa merusak keseimbangan yang ada.
Di tengah arus modernisasi, Bali menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus menjulang tinggi. Kadang, justru dengan tetap “rendah”, sebuah daerah bisa berdiri lebih kuat dalam menjaga jati dirinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber