BALI - Kegiatan adat dan spiritual kembali mewarnai kehidupan masyarakat Bali. Kali ini berlangsung di wilayah Renon, saat Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, hadir langsung mengikuti prosesi Mendem Pedagingan yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Melaspas lan Mecaru di Pemerajan Gede Bendesa Manik Mas, Banjar Adat Tengah, Desa Adat Renon, Kamis pagi (12/2). Kehadiran pemerintah kota dalam kegiatan sakral ini bukan sekadar formalitas, tapi menunjukkan bagaimana tradisi tetap jadi fondasi penting dalam dinamika pembangunan kota modern seperti Denpasar.
Prosesi berlangsung bertepatan dengan Rahina Wraspati Kliwon Menail momen yang dianggap penuh makna secara spiritual. Sejak pagi, suasana banjar terasa hidup karena warga mengenakan busana adat, sarana upacara tertata rapi, dan nuansa gotong royong terasa kental. Mendem Pedagingan sendiri merupakan tahapan sakral yang menandai penguatan spiritual pada pelinggih setelah dilakukan pembenahan fisik. Bisa dibilang, ini semacam “final touch” yang memastikan bangunan suci tak hanya berdiri secara fisik, tapi juga memiliki makna religius.
Baca juga: Pembersihan Jalur dan Ritual Adat, Pendakian Gunung Kerinci Masih Ditutup untuk Umum
Arya Wibawa dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan karya yadnya tersebut. Menurutnya, kekompakan pengempon pura dan masyarakat sekitar mencerminkan nilai kebersamaan yang masih terjaga kuat. Ia berharap ketulusan yang ditunjukkan seluruh pihak dapat membawa berkah bagi lingkungan setempat sekaligus memperkuat keharmonisan sosial. Spirit kebersamaan itu, kata dia, sejalan dengan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam pandangan bahwa semua manusia adalah satu keluarga besar.
Ia menegaskan sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan pembangunan kota berbasis budaya. Baginya, kolaborasi seperti ini bukan hanya simbolik, tetapi juga jadi pondasi untuk mewujudkan kota yang maju tanpa kehilangan akar tradisinya. Dengan kata lain, modern boleh jalan terus, tapi identitas budaya tetap harus dijaga bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata di lapangan.
Sementara itu, Ketua Panitia Karya, Wayan Sukertha, menjelaskan bahwa upacara Melaspas lan Mecaru digelar setelah proses pembenahan pelinggih pura di sekitar sembilan titik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Renovasi tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual sekaligus menjaga kelayakan tempat suci bagi generasi berikutnya.
Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran pemerintah kota, khususnya wakil wali kota, yang ikut menyaksikan jalannya prosesi. Dukungan itu dinilai memberi semangat tambahan bagi warga untuk menjalankan yadnya dengan lancar. Harapannya, pelaksanaan karya tersebut mampu menghadirkan dampak positif baik dari sisi spiritual, sosial, maupun kebersamaan masyarakat.
Kalau dilihat dari perspektif kekinian, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa budaya lokal masih relevan dan punya ruang di tengah kehidupan urban. Generasi sekarang mungkin hidup berdampingan dengan teknologi dan gaya hidup modern, tapi tradisi tetap jadi titik temu yang mengikat identitas bersama. Prosesi adat bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang solidaritas sosial, pelestarian nilai, dan koneksi antarwarga.
Baca juga: Patogar Indonesia Tegaskan Komitmen Jaga Etika dan Adat Batak
Pada akhirnya, pelaksanaan Karya Melaspas lan Mecaru di Renon bukan sekadar agenda keagamaan. Ia menjadi refleksi bagaimana tradisi, komunitas, dan pemerintah bisa jalan bareng dalam satu frekuensi. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, momen seperti ini mengingatkan bahwa akar budaya tetap punya peran besar dalam membentuk arah masa depan kota yang menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kearifan lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Denpasar