Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 13:35 WIB

Daftar Kelenteng di Bali Lengkap dengan Sejarah dan Fungsinya yang Masih Terasa Hingga Sekarang

Author

Vihara Dharmayana Temple (Batool Fayaz/30sundays.club)

BALI - Meski jumlahnya tidak sebanyak pura, kelenteng di Bali punya posisi penting dalam sejarah sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Bangunan-bangunan ini bukan cuma tempat ibadah, tapi juga saksi perjalanan komunitas Tionghoa yang sudah lama berinteraksi dengan masyarakat lokal Bali. Dari kawasan pelabuhan, pusat kota, sampai daerah pesisir, kleenteng-kelenteng ini berdiri dengan karakter uniknya masing-masing.

Sederhananya, klenteng adalah tempat ibadah bagi penganut kepercayaan Tionghoa, yang umumnya dikenal sebagai Tridharma gabungan ajaran Buddha, Tao, dan Konghucu. Di Indonesia, istilah kelenteng dipakai untuk menyebut bangunan ibadah dengan ciri khas arsitektur Tionghoa, seperti dominasi warna merah dan emas, ornamen naga, singa, lampion, serta patung dewa-dewi Cina.

Namun fungsinya tak berhenti di urusan ritual keagamaan saja. Klenteng juga berperan sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya, tempat berkumpulnya komunitas, serta ruang pelestarian tradisi Tionghoa lintas generasi. Di Bali, kelenteng bahkan sering menampilkan unsur lokal, seperti penggunaan sesajen Bali dan pelinggih bergaya Hindu, yang menunjukkan kuatnya akulturasi budaya di pulau ini.

Keberadaan klenteng di Bali tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa ke pulau ini. Sejak abad ke-18 hingga ke-19, Bali, terutama wilayah pesisir dan pelabuhan menjadi jalur perdagangan penting. Para pedagang Tionghoa menetap, berbaur dengan masyarakat setempat, lalu membangun tempat ibadah sebagai pusat spiritual sekaligus sosial.

Baca juga: Inilah Deretan Kelenteng yang Ada di Provinsi Riau, Warisan Budaya Tionghoa yang Terus Terjaga

Dari sinilah kelenteng mulai berdiri, terutama di daerah yang dulu aktif secara ekonomi, seperti Singaraja di Bali Utara dan kawasan pelabuhan di Bali Selatan. Sampai sekarang, kelenteng-kelenteng tersebut masih berfungsi aktif dan menjadi bagian dari lanskap budaya Bali.

Kelenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja

Salah satu klenteng paling tua dan bersejarah di Bali adalah Klenteng Ling Gwan Kiong yang terletak di Kampung Bugis, Singaraja, Kabupaten Buleleng. Klenteng ini diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1873, menjadikannya salah satu peninggalan penting komunitas Tionghoa di Bali Utara.

Ling Gwan Kiong dibangun di kawasan yang dulu menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan utama Bali. Arsitekturnya masih mempertahankan gaya klasik Tionghoa dengan dominasi warna merah, emas, dan ornamen khas. Hingga kini, klenteng ini masih aktif digunakan untuk beribadah dan perayaan hari besar seperti Imlek dan Cap Go Meh.

Vihara Dharmayana, Kuta

Di wilayah Bali Selatan, tepatnya di kawasan Kuta, berdiri Vihara Dharmayana yang juga dikenal dengan nama Kongco Bio Kuta. Klenteng ini punya sejarah panjang, diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-19. Lokasinya yang berada di tengah kawasan wisata membuat vihara ini cukup dikenal, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan.

Vihara Dharmayana menjadi pusat ibadah umat Tridharma di wilayah Kuta dan sekitarnya. Meski berada di kawasan yang ramai dan identik dengan pariwisata, suasana di dalam vihara tetap terasa tenang dan sakral. Klenteng ini juga sering menjadi lokasi kegiatan budaya dan perayaan besar umat Tionghoa di Bali.

Vihara Satya Dharma, Pelabuhan Benoa

Bergeser ke kawasan Pelabuhan Benoa, Badung, terdapat Vihara Satya Dharma, salah satu klenteng terbesar dan paling modern di Bali. Vihara ini mulai dibangun pada tahun 2006 dan rampung sekitar 2012. Keberadaannya sangat erat kaitannya dengan aktivitas pelabuhan dan komunitas maritim.

Dewa utama yang dipuja di Vihara Satya Dharma adalah Nezha, yang dipercaya sebagai pelindung perjalanan laut. Hal ini mencerminkan fungsi vihara sebagai tempat doa bagi para pelaut, pekerja pelabuhan, dan masyarakat pesisir. Menariknya, vihara ini juga menampilkan unsur toleransi yang kuat dengan menyediakan altar bagi dewa-dewi Hindu Bali.

Caow Eng Bio, Tanjung Benoa

Masih di kawasan pesisir Bali Selatan, tepatnya di Tanjung Benoa, berdiri Klenteng Caow Eng Bio. Klenteng ini dikenal sebagai salah satu klenteng tertua di Bali dan memiliki hubungan erat dengan sejarah pelayaran dan perdagangan di wilayah tersebut.

Caow Eng Bio menjadi tempat ibadah penting bagi komunitas Tionghoa setempat dan masih aktif hingga kini. Bangunannya mempertahankan gaya tradisional dengan ornamen khas Cina dan suasana yang kental akan nuansa sejarah. Setiap perayaan besar, klenteng ini selalu ramai oleh umat yang datang untuk berdoa dan melakukan ritual.

Baca juga: Kelenteng Puri Tri Agung Sebagai Pusat Ibadah dan Budaya, Arsitektur Menawan Menghadap Pantai

Griya Kongco Dwipayana, Denpasar

Berbeda dengan klenteng lain, Griya Kongco Dwipayana di Tanah Kilap, Denpasar Selatan, sering disebut sebagai simbol nyata toleransi dan akulturasi budaya di Bali. Tempat ibadah ini tidak hanya digunakan oleh umat Tridharma, tetapi juga dihormati oleh masyarakat Hindu Bali.

Di dalam kompleksnya, unsur budaya Tionghoa dan Hindu Bali berpadu secara harmonis. Griya ini menjadi contoh bagaimana perbedaan keyakinan bisa hidup berdampingan tanpa sekat. Tak heran jika tempat ini sering dijadikan rujukan dalam pembahasan tentang kerukunan umat beragama di Bali.

Kelenteng Lain dan Perannya di Masyarakat

Selain klenteng-klenteng besar tersebut, Bali juga memiliki klenteng berukuran lebih kecil yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Kelenteng Maha Grhapati di Denpasar. Meski tidak sepopuler klenteng besar, tempat-tempat ini tetap berfungsi sebagai pusat spiritual komunitas lokal dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat.

Keberadaan klenteng-klenteng ini menegaskan bahwa Bali bukan hanya ruang bagi satu budaya atau satu agama. Pulau ini tumbuh dari interaksi berbagai etnis dan kepercayaan yang saling menghormati.

Di era sekarang, klenteng di Bali tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya dan spiritual. Banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, tertarik mengunjungi klenteng untuk melihat sisi lain Bali yang jarang disorot.

Tentunya, kunjungan ke klenteng tetap harus dilakukan dengan menghormati aturan dan etika setempat. Dengan begitu, klenteng bisa terus menjadi ruang suci sekaligus jembatan pemahaman antarbudaya.

Baca juga: Mengenal Kelenteng Tertua yang Sekaligus Cagar Budaya di Padang: Berlokasi di Kawasan Kota Tua Padang Sebagai Tempat Ibadah Etnis Tionghoa

Keberadaan klenteng di Bali adalah bukti nyata bahwa Pulau Dewata dibangun di atas fondasi keberagaman. Dari Singaraja hingga Kuta, dari pelabuhan hingga pusat kota, klenteng-klenteng ini menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa yang berbaur dan hidup berdampingan dengan masyarakat Bali.

Bali bukan hanya tentang pura dan pantai. Di balik gemerlap pariwisata, ada cerita tentang toleransi, sejarah, dan harmoni yang tercermin lewat klenteng-klenteng yang tetap berdiri kokoh hingga hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU