BALI - Salah satu sungai paling penting adalah Sungai Ayung, yang kerap disebut sebagai sungai terpanjang di Bali. Melalui pembacaan geografis dan historis, sungai ini menjadi contoh bagaimana air mengalir bukan hanya secara fisik, tetapi juga membawa cerita panjang tentang kehidupan manusia.
Secara geografis, sebagian besar sungai di Bali memiliki pola yang sama, yakni berhulu di kawasan pegunungan tengah dan utara, lalu mengalir menuju pesisir selatan. Pola ini dipengaruhi oleh topografi Bali yang didominasi oleh pegunungan vulkanik seperti kawasan Kintamani.
Pada Sungai Ayung, sumber airnya berasal dari daerah pegunungan di sekitar Kintamani, yang kemudian mengalir sepanjang kurang lebih 68,5 kilometer sebelum bermuara di Selat Badung, tepatnya di kawasan Sanur.
Baca juga: Sejarah Jembatan Sungai Kwai, Dari Derita Perang Jadi Destinasi Wisata
Aliran sungai ini melewati beberapa wilayah administratif penting seperti Bangli, Gianyar, Badung, hingga Denpasar. Karakter alirannya pun berubah dari hulu ke hilir:
Secara hidrologi, daerah aliran sungai (DAS) Ayung mencapai lebih dari 100 km², dengan banyak anak sungai yang menyatu dan memperkuat debit airnya.
Fenomena ini juga terjadi pada sungai lain di Bali seperti Tukad Penet, Tukad Sungi, dan Tukad Siap, yang semuanya memiliki pola aliran dari pegunungan menuju laut, meskipun dengan panjang yang lebih pendek.
Sejak ratusan tahun lalu, sungai di Bali telah dimanfaatkan sebagai sumber irigasi pertanian. Sistem pengairan tradisional yang dikenal sebagai subak sangat bergantung pada aliran sungai untuk mendistribusikan air ke sawah-sawah masyarakat.
Pada Sungai Ayung, airnya mengairi lahan pertanian di sepanjang aliran tengah dan hilir. Hal ini memungkinkan berkembangnya kawasan pertanian yang subur, terutama di wilayah Gianyar dan Badung.
Sungai bukan hanya sumber air, tetapi juga bagian dari sistem sosial. Pengelolaan air dilakukan secara kolektif oleh masyarakat, mencerminkan nilai gotong royong yang kuat.
Baca juga: Bengawan Solo: Sungai Terpanjang Sekaligus Paling Angker di Pulau Jawa yang Penuh Kisah Mistis
Tanpa sungai, sistem subak yang menjadi warisan budaya dunia kemungkinan besar tidak akan bertahan hingga saat ini.
Selain fungsi ekologis, sungai juga memiliki nilai historis yang tinggi. Dalam konteks Bali, sungai sering kali menjadi lokasi awal permukiman manusia.
Di sekitar Sungai Ayung, ditemukan indikasi kehidupan masyarakat sejak abad ke-11. Sungai ini telah digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari pertanian hingga kegiatan spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Lovebali.baliprov.go.id