BALI - Kota Denpasar pada 27 Februari 2026 menandai tonggak sejarah perjalanan panjangnya dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-238. Acara ini menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan: ia mencerminkan akar budaya, semangat kebersamaan masyarakat, hingga komitmen pemerintah daerah untuk melangkah maju dalam harmoni dan kesejahteraan bersama.
Sejarah Denpasar bermula dari berdirinya Puri Agung Denpasar pada tahun 1788, ketika I Gusti Ngurah Made Pemecutan memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Badung ke kawasan yang kemudian dikenal sebagai Denpasar. Nama Denpasar sendiri berasal dari kata “Den” yang berarti utara dan “Pasar” berarti pasar, mengacu pada keberadaan pasar di utara kawasan tersebut menandai aktivitas ekonomi yang menjadi dasar kehidupan masyarakat awalnya.
Baca juga: Hari Kesadaran Nasional Jadi Momentum Evaluasi ASN Setiap Bulan
Seiring waktu, Denpasar berkembang menjadi pusat pemerintahan, aktivitas sosial budaya, dan perdagangan. Peristiwa penting lainnya adalah Perang Puputan Badung 1906, ketika pasukan kerajaan melakukan perlawanan gigih melawan kolonial Belanda, yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari ingatan sejarah Bali.
Dalam perjalanan administratifnya, Denpasar mengalami berbagai transformasi struktural hingga akhirnya diresmikan sebagai Kota Denpasar berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1992 pada 15 Januari 1992, dan peresmiannya diperingati pada 27 Februari tanggal yang kini dirayakan sebagai Hari Jadi Kota Denpasar setiap tahun.
Tema dan Makna Perayaan 2026: “Samasta Bhuwana Jagadhita”
Peringatan HUT ke-238 Denpasar tahun ini mengusung tema “Samasta Bhuwana Jagadhita” yang dalam filosofi Bali bermakna harmoni dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta baik masyarakat, budaya, maupun lingkungan. Pemerintah Kota (Pemkot) melihat tema ini sebagai refleksi dari perjalanan panjang Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali dan sebagai kota yang bertumbuh dalam kebersamaan.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, dalam apel peringatan menyampaikan bahwa momen Hari Jadi bukan sekadar ulang tahun administratif, tetapi juga peluang untuk mengevaluasi capaian pembangunan sekaligus meneguhkan komitmen untuk memperkuat harmoni sosial dan ekonomi. Beliau menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, seniman, dan warga sebagai modal utama mempercepat pembangunan yang inklusif.
Upacara Resmi
Puncak peringatan HUT ke-238 digelar melalui apel kebangsaan di Lapangan Lumintang, Denpasar, yang dipenuhi oleh pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai latar belakang. Upacara ini tidak hanya berisi penghormatan kepada sejarah, tetapi juga pidato reflektif tentang tantangan yang dihadapi kota dalam berbagai sektor, seperti kesejahteraan masyarakat, infrastruktur, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Apel semacam ini menjadi ritual penting dalam tradisi pemerintah kota untuk menanamkan semangat gotong-royong dan rasa memiliki terhadap kota sekaligus momen introspeksi atas apa yang telah dicapai maupun apa yang masih harus diupayakan.
Rangkaian Kegiatan Perayaan
Peringatan kali ini diperkaya oleh beragam kegiatan yang melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Acara-acara ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya secara terpadu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diolah Dari Berbagai Macam Sumber